Global Sport News – FIFA resmi menolak permohonan banding yang diajukan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) terkait pemalsuan dokumen ketujuh pemain naturalisasi. Keputusan ini memicu kritik dari Tunku Ismail Idris, bos klub Johor Darul Ta’zim. Yang menilai hukuman tersebut tidak memiliki dasar hukum jelas.
TUNKU ISMAIL IDRIS KRITISI SANKSI FIFA
Merujuk pada Artikel 22 Kode Etik dan Tata Tertib FIFA. Tunku Ismail menegaskan bahwa hanya pemain yang terlibat langsung dalam pemalsuan dokumen yang seharusnya dihukum. “FIFA menghukum para pemain tanpa dasar hukum yang jelas. Mereka tidak memalsukan atau menggunakan dokumen palsu. Dalam hal ini, para pemain hanya menjadi korban dari proses yang tidak mereka lakukan,” ujar Tunku Ismail, seperti dikutip dari makanbola. Ia menambahkan bahwa keputusan FIFA bisa menciptakan ketidakadilan bagi para pemain yang tidak tahu menahu tentang pemalsuan dokumen tersebut.
Ia menambahkan bahwa keputusan FIFA terlihat seperti memiliki motif politik daripada landasan hukum yang objektif. Menurutnya, hukuman ini merugikan para pemain secara tidak adil, meski mereka hanya menjalankan kewajiban profesional sebagai atlet.
FAM AJUKAN PENJELASAN DAN BAWA KASUS KE CAS
FAM kini tengah menunggu penjelasan resmi dari FIFA mengenai alasan penolakan banding mereka. Federasi berencana mengajukan kasus ini ke Court of Arbitration for Sport (CAS) jika penjelasan FIFA tidak memadai. Langkah ini bertujuan untuk memastikan ketujuh pemain dapat mendapatkan keadilan serta meminimalisir dampak pada karier mereka di level klub maupun tim nasional.
Menurut laporan resmi FIFA, ketujuh pemain yang terkena sanksi adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomas Garces, Rodrigo Julian Holgado, Imanol Javier Machuca, Joao Vitor Brandao Figueiredo, Jon Irazábal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano. Selain itu, FIFA juga memberikan sanksi berupa larangan bermain selama 12 bulan kepada ketujuh pemain tersebut, meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam pemalsuan dokumen. Dengan demikian, keputusan ini menimbulkan kontroversi dan kritik. Terutama dari pihak Tunku Ismail yang merasa keputusan FIFA tidak berlandaskan hukum yang jelas.
IMPLIKASI SANKSI TERHADAP KARIER PEMAIN
Larangan bermain selama setahun ini bisa mempengaruhi karier para pemain, termasuk kontrak klub, peluang tim nasional, dan performa profesional secara keseluruhan. Bagi pemain naturalisasi, situasi ini juga dapat memengaruhi reputasi mereka di mata penggemar dan sponsor. Tunku Ismail menekankan bahwa ketujuh pemain seharusnya tidak menanggung risiko yang muncul dari kesalahan administratif pihak federasi.
Kritik ini mencerminkan kekhawatiran sejumlah klub dan pengamat sepak bola di Asia Tenggara mengenai prosedur hukum dan transparansi FIFA dalam menangani kasus pemalsuan dokumen.
PANDANGAN KE DEPAN DAN PERJUANGAN HUKUM
Jika FAM berhasil membawa kasus ini ke CAS, keputusan final bisa memengaruhi regulasi FIFA terkait naturalisasi pemain di masa mendatang. Selain itu, hasil ini berpotensi menjadi preseden bagi federasi lain yang menghadapi situasi serupa. Oleh karena itu, Tunku Ismail berharap langkah FAM untuk membawa kasus ini ke CAS dapat memberikan kejelasan hukum dan menegakkan prinsip keadilan di dunia sepak bola internasional.
Simak Berita menarik Lain



